Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Desember 2013

Omar Dhani in My Memory

Saat mendengar berita berpulangnya Mantan Laksamana Angkatan Udara Omar Dhani, saya langsung terkenang akan kesempatan bertemu beliau di rumahnya, di daerah Santa, Mampang. 

Rumah itu dari luar terkesan biasa saja, tapi begitu kami (saya, Gasrul, Darto dan Alm. Bang Nuku Sulaeman) memasuki ruang tamunya, foto lukisan Bung Karno hampir memenuhi dinding menyita perhatian. Bukan itu saja, di meja sudut pun foto-foto Bung Karno bersama almarhum begitu mendominasi. Bisa saya simpulkan, beliau benar-benar seorang Soekarnois sejati. 

Kami disambut oleh salah seorang putrinya - yang kata Darto cantik, duduk di salah satu sofa di ruangan itu. Sementara Pak Omar Dhani ketika itu (sekitar tahun 1998) terlihat tertatih mendatangi kami. Perawakan beliau kurus dengan kulit putih berkeriput, rambut yang hampir memutih semua, serta pipi cekung dengan mata yang seakan lelah.

"Saya tidak mau diwawancara," katanya, sambil menunjuk saya yang memegang rekorder. "Kalau pun saya mau bercerita, semuanya off the record," tukasnya lagi, tegas. Maka saya pun berusaha menyembunyikan rekorder di bawah meja dengan sembunyi-sembunyi memencet tombol 'rekam'. "Kalau bukan karena dia (menunjuk ke Bang Nuku), saya pasti tidak mau menemui kalian," ketusnya lagi.

Meski berkali-kali menatap curiga pada saya yang tangannya memegang rekorder di bawah meja, beliau pun menceritakan kisahnya selama di penjara. Sayangnya, suara Pak Omar Dhani begitu lemah dan lembut sekali - benar-benar tipikal orang Jawa, sehingga rekorder saya seakan menyerah untuk merekam suaranya. Kasetnya benar-benar sulit untuk di dengar. Mungkin beliau juga telah mengantisipasi kenakalan saya, sehingga suaranya dikecilkan sedemikian rupa. 

Tapi ada beberapa hal yang bisa saya ingat dari perbincangan dengan beliau, intinya beliau tetap merasa tidak melakukan apa yang dituduhkan rezim Soeharto padanya. Menurut Pak Omar, beliau ada di Halim karena mendapat telepon langsung dari Bung Karno yang memintanya menerbangkan beliau. 

"Sebagai seorang Laksamana, saya harus patuh pada perintah atasan, apalagi oleh Panglima Besar. Kalau saya menolak perintah, itu malah salah," kira-kira begitulah yang beliau katakan. Menurutnya, saat itu tengah malam dan beliau tidak mendapatkan penjelasan apapun tentang apa yang tengah terjadi. Jadi tak heran bila Pak Omar tetap berkeras kalau dirinya tak ada hubungan apapun dan tidak bersalah atas peristiwa G 30 S, meski harus divonis hukuman mati sekalipun. 

Selain itu saya agak lupa dan statusnya pun tetap off the record, yang pasti, Pak Omar pernah berkata ingin mengisahkan peristiwa yang sebenarnya di buku putih Angkatan Udara. Waktu itu saya sempat lihat bukunya, beliau telah memiliki draf-nya, katanya tinggal di cetak. Beliau juga mengatakan ingin membersihkan namanya, entah apakah itu kesampaian atau tidak.

Tapi dari semua yang beliau sampaikan kepada kami, yang paling menyentuh saya adalah beliau tidak merasa sakit hati atas apa yang telah ditimpakan padanya. Mendekam selama berpuluh tahun di penjara dan tetap bersyukur mendapat kesempatan untuk menghirup kehidupan bebas di usia senja. 

Kini beliau juga telah lepas dari penjara dunia, selamat jalan Pak Omar Dhani, pertemuan dengan Anda termasuk sebuah kenangan historis tersendiri dalam hidup saya. Semoga Allah SWT membalas ketulusan hatinya, aamiin. 

Satu adegan kecil yang tak bisa dilupa, adalah saat Gasrul tiba-tiba bangun dan pergi ke belakang rumah di tengah-tengah cerita Pak Omar. Kami semua kaget melihat tingkahnya, terutama saat Pak Omar yang langsung menunjuknya dan berteriak “Hey! Kamu mau kemana?!”

Ternyata Gasrul mau ke kamar kecil, tapi entah mengapa ia tidak ijin dulu tapi malah ngeluyur ke belakang. “Memangnya kamu tau kamar mandinya di mana?! Tanya dulu, jangan main nyelonong masuk saja!” bentak Pak Omar, sementara saya dan Darto hampir tak bisa menahan tawa.

Tak hanya bentakan Pak Omar, Gasrul pun mendapat pelototan marah Bang Nuku. Saat pulang, Bang Nuku memarahi Gasrul karena berlaku tak sopan di rumah seorang priyayi. “Beliau itu bangsawan, kamu orang Jawa tapi kok ga ada sopan santunnya,” begitu kira-kira omelan Bang Nuku. 

Tapi saya akui keberuntungan Gasrul, karena dia jadi bisa tur melihat-lihat rumah Pak Omar. Soalnya kamar mandinya ternyata ada di lantai dua, meskipun Pak Omar menyuruhnya menunggu putrinya mengantar, tapi Cah Badung itu tetap saja ngeluyur sendiri naik ke lantai dua. Membuat Pak Omar dan kami semua geleng-geleng kepala…. 



Pluit, 28 Juli 09

Senin, 18 Maret 2013

Legenda & Mitologi Bontang: Tempat Singgah Para Pengembara


Terbentuknya Kota Bontang, Kalimantan Timur, tak luput dari legenda maupun mitologi yang hingga kini masih diragukan kesahihannya.

Bontang Kuala
Kisah awal mula Bontang dan perjalanan sejarahnya, hingga kini masih terus dikaji dan dikumpulkan oleh para ahli. Begitu juga nama Bontang yang konon disebut sebagai Bintalu dalam kitab silsilah dan kronologis perjalanan sejarah Raja-raja Kutai Kartanegara. Kitab tersebut menceritakan silsilah raja-raja dari zaman Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti, hingga raja yang terakhir, yaitu Raja Aji Sultan Muhammad Parikesit.

Dalam kitab yang ditulis dalam huruf Arab Melayu itu, menyebutkan kekuasaan Raja Kutai Kartanegara. Antara lain Bintalu (Bontang), Sembaran (Sambera), Penyuangan, Senawan, Sangsangan (Sanga-sanga), Kembang Sambaran, Sambuni, Tanah Merah, Susuran Dagang, Tanah Malang, Pulau Atas, Karang Asam, Karang Mumus, Mangku Palas, Loa Bakung, Sembuyutan (Sambutan), dan Manggar (kini wilayah Balikpapan).

Masih belum jelas apakah pada masa itu Bintalu merupakan desa atau daerah vasal. Tapi jika pada masa itu Bintalu disebut-sebut dalam Kitab, maka pastilah daerah tersebut merupakan wilayah penting bagi Kerajaan Kutai Kartanegara. “Belum bisa dipastikan benar apakah Bintalu yang dimaksud adalah Bontang, karena kami masih melakukan pengkajian,” jelas Yusran Thaiyib, Wakil Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) yang kerap mengadakan seminar dan mendatangkan ahli-ahli sejarah Kalimantan untuk mengumpulkan informasi mengenai sejarah Bontang.

Tapi, jika pada masa kekuasaan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti wilayah yang dimaksud Bintalu tersebut adalah Bontang dan masuk dalam salah satu wilayah kekuasaan Kutai Kartanegara, maka dapat diperkirakan kalau sekitar abad ke-13, perkampungan Bontang Kuala sudah mulai terbentuk .

Terlepas dari etnologis nama Bontang, ada satu catatan sejarah tradisional yang selama ini tersebar luas di masyarakat Bontang Kuala secara turun temurun, yaitu bahwa Bontang sebenarnya didirikan oleh Suku Laut (Suku Bajau) yang kemudian menetap di salah satu muara sungai yang kini disebut Bontang Kuala.

Rumah tertua di Bontang
Berdasar cerita mitologi para orangtua di perkampungan Bontang Kuala, dikisahkan bahwa Suku Bajau sebenarnya memiliki kerajaan tersendiri yang pusat pemerintahannya di daerah Sabah, Malaysia Timur.

Alkisah, seorang Putra Mahkota Raja Bajau bersyiar dengan menggunakan kapal layar menyusuri Laut Cina Selatan. Naas, saat tengah berlayar tiba-tiba badai datang menerjang dan menggulung kapal tersebut. Akibatnya, putra semata wayang Raja Bajau pun hilang di tengah lautan.

Mendengar kenyataan pahit ini, Sang Raja kemudian memerintahkan seluruh anak negeri, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, untuk berlayar ke Laut Cina Selatan mencari Sang Putra Mahkota. Jika tak berhasil menemukannya, dalam keadaan hidup atau mati, maka para pencari tersebut dilarang pulang. Bila ada yang berani pulang tanpa membawa hasil, maka Raja mengancam akan memberikan hukuman mati.

Tahun demi tahun para pencari berlayar mengarungi Laut Cina Selatan, mencari Sang Putra Mahkota. Namun pengembaraan mereka tak jua mendapatkan hasil. Kepatuhan mereka akan amanat Raja dan rasa takut akan ancaman hukuman mati, membuat para pencari tidak berani kembali ke kampung halamannya.

Maka warga Suku Bajau tersebut pun merantau dan menyebar luas ke berbagai pelosok lautan luas, terutama di perairan Samudera Pasifik. Salah satu dari mereka, terus mengembara menyusuri Selat Makassar dan singgah di pesisir Kalimantan Timur, lalu membentuk koloni perkampungan Suku Bajau di Bontang Kuala. Perkampungan inilah, yang konon menjadi cikal bakal berdirinya Bontang.

Meski hingga kini belum ada kajian ilmiah yang secara pasti merumuskan teori tentang asal usul munculnya istilah Bontang. Namun dari segi antropologis, sebenarnya beberapa daerah di Kalimantan Timur sering menggunakan nama sukunya untuk menamai tempat tinggal mereka, misalnya Suku Tidung yang tinggal di daerah Tidung, Suku Kali yang tinggal di daerah Longkali, atau Suku Kayan yang tinggal di Sungai Kayan, dan masih banyak lagi. Tetapi anehnya, Bontang dijadikan nama daerah walau tak ada satu pun suku yang bernama Suku Bontang. 

Kota Bontang
Kini setelah memasuki milenium ketiga, Bontang mulai bersolek diri untuk meraih predikat sebagai “Bintang Timur Pulau Kalimantan”. Dalam kurun dua puluh tahun pembangunan, Kota Bontang telah mampu membuktikan filosofi kota yang beradab. Berdirinya gedung-gedung perusahaan multinasional dan deretan berbagai fasilitas umum, merupakan bukti bahwa Bontang mampu meraih kejayaan sebagai Bintang Timur yang dapat dibanggakan.

 (Sumber: Makalah Sempekat Keroan Kutai, Bontang)