Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2013

Belajar Dari Sang Maestro


Lebih dari 10 tahun lalu, saya beserta dua orang kawan berkunjung ke rumah begawan sastra Indonesia, (Alm) Pramoedya Ananta Toer. Kala itu, nama beliau masih menjadi momok bagi pemerintah, meski di luar negeri, karya-karya beliau telah banyak mendapatkan penghargaan.

"Yah beginilah kondisi saya," keluh Pak Pram. Ia berbaring lemah di tempat tidur. setelah kecapaian membakar sampah, sastrawan yang akrab dipanggil Papi oleh tetangganya ini, meminta wawancara dilakukan dikamarnya yang terletak di lantai dua.

Sebelum memulai percakapan, beliau meminta kami bertiga berbagi tugas memijat kedua tangan dan kakinya. Permintaannya ini tentu bukan masalah bagi kami, karena kapan lagi bisa memijat seorang sastrawan kelas dunia yang begitu kami kagumi sepak terjangnya.

Kisah hidup Pak Pram, bagi kami adalah sebuah kisah sastra tersendiri yang penuh dengan kegetiran dan kesatiran. Asyiknya lagi, kisahnya dituturkan langsung dari mulut sang maestro. Sehingga kami kerap bingung mau bertanya apa, saking terpesonanya – tentu dengan tangan kedua tangan masing-masing yang sibuk memijat.

Beliau menceritakan kegetirannya saat Soeharto mendapat Supersemar dan merebut kekuasaan. Bukan hanya karena rumahnya yang terletak di Menteng di rebut paksa, tapi juga karena ribuan koleksi bukunya di bakar oleh tentara tepat di depan mata.

Ketika dituduh sebagai antek PKI pun, beliau tidak peduli bila memang harus terpasung dan melakukan kerja paksa. Yang paling menyiksanya adalah karena harus berhenti berkarya dan dipenjara semena-mena tanpa boleh membaca.

“Dulu, saat (Alm) Jend. Soemitro mengunjungi saya. Beliau pernah berjanji akan membawakan buku-buku untuk saya. Tapi buku-buku itu tidak pernah sampai ke tangan saya, karena saya dengar telah dibakar oleh para sipir penjara,” kenangnya.

“Buku-buku saya menyimpan banyak catatan sejarah,” terangnya. Bagi Pak Pram, buku adalah segalanya. Ini terlihat langsung saat kami melewati ruang kerja dan lorong menuju kamar tidurnya di lantai dua. Mami (istri Pram) memang tak mengantar, karena sibuk di dapur. Ia hanya menunjukkan tangga dan arah yang harus lewati.

Ruang kerjanya cukup besar, lemari kaca menutupi tiga sisi dinding dengan buku-buku yang berjajar rapat di dalamnya. Di meja kerjanya, ada sebuah mesin tik tua dengan tumpukan kertas. Saat melewati lorong menuju kamar, kami juga ternganga melihat rak kaca menutupi dinding atas yang dipenuhi buku. Memasuki kamar Pak Pram, lagi-lagi rak kaca dan tumpukan buku mendominasi. Beberapa diantaranya terhampar di ranjang.

"Seorang penulis harus mampu dan kuat dalam melakukan riset," sarannya. Hingga kini, saran itu saya patri betul di otak. Menurutnya, semua yang digoretkan di setiap novelnya adalah hasil kerja keras mengobrak abrik buku sejarah dan koran-koran lama di perpustakaan.

Saat membuat buku tentang Boven Digul, Pak Pram mengaku bolak balik ke perpustakaan nasional untuk membaca berita-berita yang berkaitan dengan wilayah dan peristiwa yang ingin diangkatnya. Bagi Pak Pram, seorang penulis harus memahami betul peristiwa-peristiwa yang diangkat untuk novelnya. Bahkan, data korban di buku-bukunya merupakan data yang akurat dengan sumber yang jelas.

Menurutnya, riset adalah kunci terpenting bagi seorang penulis, bahkan penulis fiksi sekalipun. Sebab dengan kekuatan riset, penulis dapat mengisahkan ceritanya menjadi lebih realistis dan terasa dekat dengan pembacanya. Sehingga pembaca akan merasa ikut terlibat di dalam peristiwa tersebut.

Kekuatan riset, baik melalui data, observasi, maupun wawancara, akan sangat memperkaya tulisan. Tulisan kita tak hanya sekedar bercerita, tapi juga memberikan makna dan arti tersendiri bagi pembacanya. Bagaimana si penulis mengolah fakta tersebut menjadi lebih dipahami dan bisa dinikmati pembaca, tentu itu membutuhkan kejelian si penulis. Selamat menulis!

Senin, 18 Maret 2013

Legenda & Mitologi Bontang: Tempat Singgah Para Pengembara


Terbentuknya Kota Bontang, Kalimantan Timur, tak luput dari legenda maupun mitologi yang hingga kini masih diragukan kesahihannya.

Bontang Kuala
Kisah awal mula Bontang dan perjalanan sejarahnya, hingga kini masih terus dikaji dan dikumpulkan oleh para ahli. Begitu juga nama Bontang yang konon disebut sebagai Bintalu dalam kitab silsilah dan kronologis perjalanan sejarah Raja-raja Kutai Kartanegara. Kitab tersebut menceritakan silsilah raja-raja dari zaman Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti, hingga raja yang terakhir, yaitu Raja Aji Sultan Muhammad Parikesit.

Dalam kitab yang ditulis dalam huruf Arab Melayu itu, menyebutkan kekuasaan Raja Kutai Kartanegara. Antara lain Bintalu (Bontang), Sembaran (Sambera), Penyuangan, Senawan, Sangsangan (Sanga-sanga), Kembang Sambaran, Sambuni, Tanah Merah, Susuran Dagang, Tanah Malang, Pulau Atas, Karang Asam, Karang Mumus, Mangku Palas, Loa Bakung, Sembuyutan (Sambutan), dan Manggar (kini wilayah Balikpapan).

Masih belum jelas apakah pada masa itu Bintalu merupakan desa atau daerah vasal. Tapi jika pada masa itu Bintalu disebut-sebut dalam Kitab, maka pastilah daerah tersebut merupakan wilayah penting bagi Kerajaan Kutai Kartanegara. “Belum bisa dipastikan benar apakah Bintalu yang dimaksud adalah Bontang, karena kami masih melakukan pengkajian,” jelas Yusran Thaiyib, Wakil Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) yang kerap mengadakan seminar dan mendatangkan ahli-ahli sejarah Kalimantan untuk mengumpulkan informasi mengenai sejarah Bontang.

Tapi, jika pada masa kekuasaan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti wilayah yang dimaksud Bintalu tersebut adalah Bontang dan masuk dalam salah satu wilayah kekuasaan Kutai Kartanegara, maka dapat diperkirakan kalau sekitar abad ke-13, perkampungan Bontang Kuala sudah mulai terbentuk .

Terlepas dari etnologis nama Bontang, ada satu catatan sejarah tradisional yang selama ini tersebar luas di masyarakat Bontang Kuala secara turun temurun, yaitu bahwa Bontang sebenarnya didirikan oleh Suku Laut (Suku Bajau) yang kemudian menetap di salah satu muara sungai yang kini disebut Bontang Kuala.

Rumah tertua di Bontang
Berdasar cerita mitologi para orangtua di perkampungan Bontang Kuala, dikisahkan bahwa Suku Bajau sebenarnya memiliki kerajaan tersendiri yang pusat pemerintahannya di daerah Sabah, Malaysia Timur.

Alkisah, seorang Putra Mahkota Raja Bajau bersyiar dengan menggunakan kapal layar menyusuri Laut Cina Selatan. Naas, saat tengah berlayar tiba-tiba badai datang menerjang dan menggulung kapal tersebut. Akibatnya, putra semata wayang Raja Bajau pun hilang di tengah lautan.

Mendengar kenyataan pahit ini, Sang Raja kemudian memerintahkan seluruh anak negeri, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, untuk berlayar ke Laut Cina Selatan mencari Sang Putra Mahkota. Jika tak berhasil menemukannya, dalam keadaan hidup atau mati, maka para pencari tersebut dilarang pulang. Bila ada yang berani pulang tanpa membawa hasil, maka Raja mengancam akan memberikan hukuman mati.

Tahun demi tahun para pencari berlayar mengarungi Laut Cina Selatan, mencari Sang Putra Mahkota. Namun pengembaraan mereka tak jua mendapatkan hasil. Kepatuhan mereka akan amanat Raja dan rasa takut akan ancaman hukuman mati, membuat para pencari tidak berani kembali ke kampung halamannya.

Maka warga Suku Bajau tersebut pun merantau dan menyebar luas ke berbagai pelosok lautan luas, terutama di perairan Samudera Pasifik. Salah satu dari mereka, terus mengembara menyusuri Selat Makassar dan singgah di pesisir Kalimantan Timur, lalu membentuk koloni perkampungan Suku Bajau di Bontang Kuala. Perkampungan inilah, yang konon menjadi cikal bakal berdirinya Bontang.

Meski hingga kini belum ada kajian ilmiah yang secara pasti merumuskan teori tentang asal usul munculnya istilah Bontang. Namun dari segi antropologis, sebenarnya beberapa daerah di Kalimantan Timur sering menggunakan nama sukunya untuk menamai tempat tinggal mereka, misalnya Suku Tidung yang tinggal di daerah Tidung, Suku Kali yang tinggal di daerah Longkali, atau Suku Kayan yang tinggal di Sungai Kayan, dan masih banyak lagi. Tetapi anehnya, Bontang dijadikan nama daerah walau tak ada satu pun suku yang bernama Suku Bontang. 

Kota Bontang
Kini setelah memasuki milenium ketiga, Bontang mulai bersolek diri untuk meraih predikat sebagai “Bintang Timur Pulau Kalimantan”. Dalam kurun dua puluh tahun pembangunan, Kota Bontang telah mampu membuktikan filosofi kota yang beradab. Berdirinya gedung-gedung perusahaan multinasional dan deretan berbagai fasilitas umum, merupakan bukti bahwa Bontang mampu meraih kejayaan sebagai Bintang Timur yang dapat dibanggakan.

 (Sumber: Makalah Sempekat Keroan Kutai, Bontang)

Perkampungan Terapung Bontang: Dari Laut Kami Makan, Di Laut Kami Hidup


Di mana tempat memberi hidup di situlah tempat paling cocok untuk ditinggali, bahkan di tengah laut sekalipun. Berangkat dengan tekad mencari nafkah, lebih dari dua puluh tahun lalu Pak Ido bersama ke empat temannya mengarungi Selat Makassar dan memutuskan tinggal di tengah Laut Bontang. “Kami tinggal di sini merantau mencari hidup, awalnya yang tinggal di sini hanya berempat saja,” kisah lelaki paruh baya asal Mamuju, Sulawesi Barat.

Berbekal papan dari kayu bakau, Pak Ido dan rekannya membangun rumah beratapkan rumbia. “Setelah ada uang sedikit-sedikit, barulah kami bisa membeli atap seng,” terang Ketua RT yang kini disebut Tihi-tihi. Kini, Tihi-tihi memiliki penduduk yang cukup banyak, yaitu sekitar 48 KK dengan 30 rumah kayu. “Penduduk di sini semakin banyak, selain keluarga juga masih banyak pendatang yang ikut tinggal di sini, tapi semuanya berasal dari Mamuju dan Bugis,” tambahnya.

Meski jarak Tihi-tihi dengan Pesisir Bontang tidak terlalu jauh, namun penduduk Tihi-tihi tidak berminat untuk tinggal di daratan. “Di daratan kami tidak punya kerjaan, karena matapencaharian dari laut. Karena laut yang memberi kami hidup, maka kami lebih suka tinggal di laut,” kata Pak Ashar yang juga salah satu pendiri perkampungan ini. “Di darat kami tidak punya tempat. Jangankan rumah, tanah sedikit saja harus beli.”

 Walau Laut Bontang termasuk tenang dan tidak berombak tinggi, namun penduduk yang bermukim di tengah laut tetap tak luput dari bahaya terjangan angin kencang. Kerusakan yang terjadi tentu tak bisa dielak, seperti rusaknya ata-atap rumah yang terhempas angin. “Dulu sempat 20 rumah rusak diterjang angin, tak hanya atap rumbia tapi atap seng pun tetap terlempar,” papar Pak Ido yang rumahnya tetap asli seperti 20 tahun lalu dan beratap rumbia.

Layaknya sebuah perkampungan di darat, perkampungan terapung ini telah memiliki fasilitas umum yang cukup lengkap, seperti jembatan yang terbuat dari kayu Ulin, sekolah dan juga masjid. Penampungan air tawar pun telah disediakan, umumnya berkat bantuan berbagai perusahaan maupun Pemerintah Kota Bontang. “Untuk air tawar, kami beli dari darat lalu ditampung bak besar. Masyarakat kalau mau pakai harus beli lagi perjerigen,” ungkap Pak Ido.

Menurut keduanya, awalnya seluruh penduduk Tihi-tihi mengandalkan hidup dari menangkap ikan. Tapi sekarang ikan sulit didapat, sehingga mereka beralih ke budidaya rumput laut. “Mencari ikan untuk makan sehari-hari saja,” tukas Pak Ashar dan Pak Ido yang mengharapkan bantuan penambahan tempat penjemuran rumput laut. “Kalau sedang panen, semua jembatan dan halaman rumah penuh dengan rumput laut sehingga sering terinjak-injak,” jelas keduanya.

Tihi-tihi hanyalah salah satu perkampungan terapung di Laut Bontang, perkampungan serupa kini mulai banyak ditemui dan letaknya menyebar tak jauh dari Pesisir Bontang, seperti Selamba, Melahi, dan Selangan. Dibanding Tihi-tihi, Selangan telah lebih dulu ada. “Selangan sudah ada sebelum Tihi-tihi, sudah ada sejak orang-orang tua yang sekarang sudah meninggal semua,” tutur Pak Refni yang termasuk pendatang di perkampungan ini.  

Yang berbeda dari Tihi-tihi, jumlah penduduk Selangan lebih sedikit dan berasal dari berbagai suku, meski sebagian besarnya berasal dari Suku Bajau. Selain nelayan dan budidaya rumput laut, penduduk Selangan lebih menggantungkan diri dari hasil Keramba Ikan Kerapu dan Baronang. “Hasil menangkap ikan dan rumput laut sangat kecil, jadi banyak yang beralih usaha,” lanjut Pak Refni yang mengaku cukup sering menerima tamu dari Bontang yang ingin menyantap ikan bakar.

Selangan memang telah ditetapkan sebagai lokasi Wisata Keramba, tak heran bila perkampungan terapung ini banyak menerima tamu yang datang berkunjung dan memesan ikan bakar. “Tak hanya ikan yang dari keramba, ikan dari laut pun akan kami carikan. Tapi harus beberapa hari sebelumnya, karena sekarang mencari ikan tidak gampang,” ucap pria 30-an tahun yang tetap bertahan tinggal di Selangan karena tidak kuat membeli tanah, “Lokasi di Bontang Kuala saja sekarang sudah mahal,” pungkasnya.

Jalan Menurun


Ketika turun dari Gunung Cikuray, Garut, saya banyak menerima pelajaran yang sedikit banyak mengubah cara pandang selama ini. 

"Jalan menurun akan terasa lebih berat daripada menanjak," tutur Mba Jenny saat menemani saya yang jalan terseok-seok dan menahan sakit akibat engsel dengkul kanan  seperti mau copot. Menuruni G. Cikuray dengan hanya satu kaki, sangat tak mudah. Meski sudah dibantu tongkat, saya bisa tiba-tiba saja jatuh tersungkur tanpa sebab.

Ia melanjutkan, di saat mendaki kita berjalan penuh semangat, berlomba-lomba menuju puncak. Di saat jalan menurun, kondisi badan sudah lelah, stamina rendah, dan membutuhkan kerja keras ekstra karena harus menahan tarikan gravitasi serta menopang berat keril di belakang.

Begitu juga pada kehidupan, umumnya kita lebih menikmati saat-saat meniti karir. Meski perlu kerja keras, namun tahu apa yang harus dikejar dan berharap bisa sampai di puncak. Tapi saat kondisi karir dan kesehatan menurun, akan dirasakan sebagai beban yang berat. "Saya bukan termasuk orang yang lemah saat harus menjalaninya," itulah tekad saya dalam hati. "Saya bisa melewati tahapan ini, meskipun harus menahan sakit dan menggunakan satu kaki."

Satu kaki, itu perkara lain. Tapi dalam kasus ini, saya jadi tahu bagaimana sulitnya kalau menghadapi kehidupan sendirian. Bagaimana sulit dan lambannya proses yang harus saya lalui dibanding mereka yang bisa turun dengan dua kaki. Dengan kata lain, memiliki pasangan untuk saling membantu. Ini semakin memotivasi semangat, andai Tuhan menakdirkan saya menjalani kehidupan sendirian, saya harus mampu. Tak boleh mengeluh, tidak juga menangis. Peluh, perih, lelah, adalah harga yang harus saya bayar atas keputusan itu. Dan sekali lagi, akan saya buktikan, bahwa saya mampu menghadapinya. Harus mampu.

Salah satu kesulitan lainnya adalah saat harus jujur pada diri sendiri. Jujur kalau saya lelah, jujur kalau saya sebenarnya malu mendapatkan bantuan yang akan menyusahkan orang lain, dan jujur bahwa saya sangat kesakitan. Tapi keikhlasan dan ketulusan, membuat saya akhirnya bisa mengakui keadaan tersebut. Menghargai perhatian orang lain dengan menyadari bahwa dengan menerima uluran tangan, artinya juga membantu semua orang untuk melewati proses turunan ini dengan lebih cepat.

Jujur mengakui apa yang dirasakan pada orang lain, adalah pelajaran tersendiri. Selama ini saya selalu berusaha menyembunyikan perasaan pada orang lain. Cerita hidup saya adalah milik saya sendiri, hal yang tabu untuk diketahui orang lain. Begitu juga saat saya sayang dan mencintai orang lain, saya akan memendamnya baik-baik.

Saya akhirnya mampu membuktikan, bahwa jujur akan membantu hati dan pikiran. Try to let go dengan tak malu mengungkapkan perasaan, apapun hasilnya. Ternyata luar biasa, hati saya plong. Seperti sumbat yang terlepas, saya bahkan menerima apapun yang terjadi dengan lapang hati meski harus kehilangan sekalipun. Nothing to lose...

Tak ada seorang pun yang mampu menjalani cobaan sendirian. Setiap orang butuh bantuan orang lain, yang perlu saya lakukan adalah menghargai dan berterima kasih dengan menerima uluran itu. Saya tak sendirian, meski mereka tak tahu apa yang terjadi, setidaknya mereka tetap menemani dan mengembalikan senyum di wajah saya....

My Best Friend

Beberapa waktu lalu, aku nonton film Perancis, judulnya "Mon Meilleur Ami" atau My Best Friend. Kisahnya menarik banget, tentang seorang pemilik toko antik bernama Francois yang bertaruh sebuah vas antik dengan rekan kerjanya. Taruhannya, Francois harus bisa menunjukkan kalau ia punya seorang teman baik dalam waktu 10 hari.

Sebenarnya Francois tidak punya teman baik. Sebagai orang yang mandiri, orang-orang disekitarnya tak pernah ia perhatikan. Kalau pun ada yang ia kenal, umumnya mereka dekat karena urusan bisnis, bukan pribadi. Bahkan pada anaknya sendiri pun, ia terkesan tidak peduli. Tak heran bila selama 10 hari itu, Francois kelimpungan ke sana kemari, mencari cara agar bisa punya teman, baik lewat buku hingga seminar. Sampai suatu hari ia bertemu dengan Bruno, tukang taksi yang supel yang mengajarinya bagaimana seorang teman baik seharusnya.

Film ini membuat saya berpikir, apakah saya punya teman yang akan datang bila suatu saat saya dipanggil pulang oleh Ilahi. Siapa sajakah yang akan mengantar saya terakhir kalinya hingga ke makam. Siapa seseorang yang akan bersedia mengangkat telepon saya tengah malam, saat saya membutuhkan pertolongan. Siapa yang akan bersedia berkorban hingga batas kemampuannya, saat saya memerlukannya. Siapa?

Bila ada, dialah yang disebut teman baik, teman yang ada di saat senang maupun susah. Orang yang dengan tulus ikhlas membantu dan menemani, tanpa minta balas secara materi. Seseorang yang tak minta imbalan saat memerlukan pertolongan. Bukan juga pasangan atau kekasih yang mengharap balasan cinta dan kasih sayang. Adakah?

Saya jadi ingat ketika berada dalam kesulitan, saya mengontak beberapa orang yang saya anggap bisa di percaya. Luar biasa, ternyata dari sekian banyak yang saya kontak, hanya satu orang saja yang muncul.  

Dari sekian banyak teman, hanya segelintir saja yang bisa disebut sebagai teman baik atau sahabat. Saya jadi kembali bersyukur, meski tak memiliki banyak, saya masih diberi sahabat. Memang menjaga persahabatan tak mudah, kadang mengalami kebosanan, pertengkaran, tapi juga ada kerinduan dan kasih sayang tak terbilang yang sulit dihilangkan. 

Setidaknya saya tak perlu seperti Francois yang kebingungan mencari teman baik, karena tak satupun orang yang ia kenal menganggapnya teman baik. Saya pun berharap, sahabat saya yang nantinya ikut mengantarkan hingga tempat peristirahatan terakhirTetap mau menerima telepon bahkan saat tengah malam, saat membutuhkan bantuan. Berharap tetap mengusahakan yang terbaik yang bisa ia lakukan, apabila saya memerlukan pertolongan...

Teman baik mungkin terdengar sepele, tapi Francois dan saya sudah pernah merasakan sulitnya mencari definisi dan orang yang bisa disebut teman baik. Terkadang, saya sering lupa dengan orang-orang di sekitar yang sudah melakukan yang terbaik untuk saya. Karena itu, sepulang menonton film ini, saya jadi kembali merefleksi diri. Siapa nama-nama yang bisa saya masukkan ke dalam daftar "teman baik" yang bisa saya andalkan, dan orang-orang yang telah mengandalkan saya saat mereka membutuhkan pertolongan. Karena teman baik tak hanya menerima, tapi juga memberi, seperti halnya Francois dan Bruno... 

KRING


Gemerincing itu terus berkumandang dipikiran Ra, walau malam mulai berpaling dan rembulan tak lagi cemerlang menatapnya.

"Hhhh...," Ra mendesah, mengapa ketetapan pikiran tak mampu selaras dengan rasa hati. Ra mencoba mendiamkan gemerincing itu dengan kebenciannya. Tapi tak bisa, rembulan itu masih saja mengganggu kenangannya!

Ra menderita, matanya tak mau terkatup meski raganya lelah. Gemerincing itu terus membangunkannya saat rembulan mulai menghilang. "Ia telah pergi, sinar peraknya tak lagi untukku," harpa itu ditendangnya menjauh. Setengah mengantuk, Ra memohon gemerincing rindu tak lagi mengganggunya dengan perasaan pilu yang mendayu-dayu. 

Ra tau, ia yang melepaskannya. Tapi apalah janji satu sisi, sedang yang lain terlalu asyik bermain dengan bintang yang gegap gemintang? Apalah artinya seekor gagak yang terus mengoak padanya, sebagaimana dirinya?

Rembulan itu masih di situ, ia tak akan kemana-mana. Namun mendung di hati Ra berusaha menutupnya, menghilangkannya dari salah satu konsep alam semesta. Mencoba menyimpangnya dari peredaran orbit sebagaimana mestinya. 

"Aku tak ingin bertemu rembulan!" pekiknya. Namun jarinya terus menerus mengetikkan sms rindu untuknya, memencet tombol 'oke' hanya untuk mendengar suaranya. Tapi rembulan itu tak lagi peduli, ia bahkan terlalu congkak hanya untuk mengangkatnnya!!

Maka Ra pun hanya bisa memaki dirinya sendiri. Bulunya yang hitam semakin hitam, sepekat hatinya kini yang makin lebam legam. Tapi mengapa gemerincing itu tak berhenti mengering?

Dan Ra hanya bisa pasrah, berharap bisa menutup telinga, hati, dan mata akan suaranya. Membiarkan rembulan menertawakan kebodohannya, sambil berdansa dengan bintang kejora.

"Biarkan aku beristirahat dengan tenang, aku tak lagi memujanya sebagaimana ia melupakanku," doanya pada entah siapa. Tapi gemirincing itu terus mengering...
kring... kring...


Landmark, 12 Mei 2008
Thanks to SGA
hujan itu tak lagi untukku...